Monday, May 11, 2020

TIPS UNTUK PARA JOMBLO



 

TIPS UNTUK PARA JOMBLO

الحمد لله، والصلاه والسلام على رسول الله..

Buat para jomblo, ada tips untuk kalian tentang bagaimana cara mencari jodoh. Mencari jodoh itu bisa dikatakan susah-susah gampang atau gampang-gampang susah. Namun tentunya bagi para jomblo yang ingin menikah, hendaklah yang menjadi tolak ukur yang paling utama dan yang paling pertama adalah agama. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُنْكحُ الْمَرْأَةُ لأرْبَعٍ

“Wanita itu dinikahi karena empat” Yaitu:

ولِجَمَالها (kecantikannya)لمالها (hartanya)ولِحَسَبها (keturunannya)وَلدينها (agamanya)

Kata Rasulullah apa?

فَاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ تَربَتْ يَدَاكَ

“Maka carilah oleh kamu yang memiliki agama, niscaya kamu akan beruntung.”

Karena kecantikan akan pudar, sedangkan agama tidak. Secantik apapun ketika anda telah memilikinya, pasti ada rasa bosan. Lalu Anda akan melihat dan melirik wanita lain yang lebih cantik. Tapi untuk agama, itulah kebahagiaan. Oleh karena itulah Anda yang ingin mencari jodoh, hendaknya tolak ukur yang pertama dan parameter yang pertama kamu jadikan acuan adalah “Dia wanita sholehah atau bukan? Dia wanita yang punya akhlak dan agama atau tidak?” Itu acuan kita.

Nah, ketika kita ingin mendapatkannya ini, apa yang harus kita lakukan?

Saya ingin mendapatkan wanita yang shalihah, sesuai dengan idaman saya. Bagaimana yang kita lakukan?

1. MENGHUBUNGI TEMAN-TEMAN SHALIH

Kita bisa menghubungi teman-teman yang sudah lama ngaji yang barangkali dia punya relasi atau teman-teman yang sudah menikah lalu barangkali istrinya bisa mencarikan akhwat-akhwat yang juga yang masih jomblo. Sehingga pada waktu itu dengan cara kita meminta dicarikan dengan teman-teman yang shalih dan shalihah, barangkali kita bisa mendapatkan yang shalih dan shalihah. Dalam hal ini kita berusaha untuk taawun ‘alal birri wa taqwa (saling bahu-membahu, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan).

Namun ingat, kalau kita ingin mendapatkan istri yang shalihah, kita pun juga harus menjadi lelaki yang shalih. Jangan sampai “Saya ingin punya wanita yang shalihah, yang hafidzah”, tapi sementara dirinya sendiri masih jauh dari keshalihan. Bagaimana?

Ada orang bertanya, “Ustadz, saya ingin punya istri seperti Khadijah.” Saya katakan kepada dia, “Kalau begitu kamu harus seperti Rasulullah.” Berkhayal ingin punya istri seperti Khadijah sementara kita tidak seperti Rasulullah. Kita ingin punya istri seperti Fatimah, tapi kita tidak seperti Ali bin Abi Thalib. Maka kita pun juga harus memperbaiki diri.

Ini tips yang pertama.. yaitu kita coba cari tahu teman-teman kita terutama yang sudah menikah, relasi-relasi, untuk kita hubungi mereka barangkali ada akhwat yang juga masih jomblo dan siap menikah.

Kalau sudah kita mendapatkannya, apa yang kita lakukan?

2. NADZOR (MELIHAT)

Nah, Islam menganjurkan kita untuk nadzor. Hal ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

انظر إليها

“Lihatlah wanita yang hendak kamu nikahi itu”

Namun kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah bahwa nadzor boleh dilakukan dengan beberapa syarat:

1. Sudah ada keingingn kuat untuk menikah. Sehingga tidak seperti orang yang sebatas melihat-lihat saja. Ini haram hukumnya, saudaraku.

2. Tidak boleh berdua-duaan dengan wanita tersebut saat nadzor. Wajib ditemani oleh walinya. Maka dari itu kalau kita ingin menadzor seorang akhwat kita harus menghubungi walinya terlebih dahulu. Misalnya dengan cara telepon, “Maaf Pak, saya boleh nggak nadzor putri Bapak, saya ingin menikah.” Kalau walinya tidak mengizinkan, ya sudah. Makanya kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah kalau kita tidak ada perjanjian dulu dengan wali wanita tersebut, kita harus yakin dulu kira-kira kita bakal diterima atau tidak oleh walinya. Jangan-jangan pas kita datang ke rumahnya diusir oleh walinya. Tentu yang seperti ini tidak bagus.

3. Nadzor sebatas yang dibutuhkan saja, nggak boleh lebih. Terjadi ikhtilaf diantara para ulama, apa yang harus dilihat. Kalau jumhur mengatakan cukup wajah dan telapak tangan. Karena wajah mewakili kecantikan sedangkan telapak tangan itu menunjukkan dia kurus apa tidak. Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa yang boleh dilihat adalah semua yang biasa tampak di rumahnya di depan mahram-mahramnya (ayah, kakak dan adiknya). Yaitu rambut, leher, lengan, betis. Seperti ini boleh dan ini yang dirajihkan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, juga dirajihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah, demikian pula Syaikh Utsaimin merajihkan pendapat ini dan pendapat ini juga yang saya rajihkan. Hal ini berdasarkan hadits Jabir, bahwa jabir mengatakan “Aku ingin menikahi seorang wanita dan aku berusaha untuk melihat di rumahnya” Berarti yang biasa tampak di rumahnya. Maka dari itu saudaraku sekalian, boleh melihat rambutnya. Terkadang wajahnya cantik, pas dibuka rambutnya aneh. Itu pendapat yang shahih, yang rajih, wallahu a’lam..

3. JAUHI PELANGGARAN-PELANGGARAN SAAT TA’ARUF

Setelah kita Nadzor, kita tidak boleh berbincang-bincang memuaskan keinginan (syahwat), disaat kita nadzor pun kita tidak boleh kita cekakak-cekikik, bercanda dengan dia dan yang lainnya. Sebatas kita melihat, hati kita sudah cocok, dia juga melihat kita, sudah selesai.

Setelah itu juga tidak boleh dilanjutkan dengan hubungan telepon-teleponan, chatting-chattingan seperti halnya dilakukan oleh banyak ikhwah di zaman sekarang dengan alasan katanya pengen kenalan. Apalagi sampai pacaran, na’udzubillah.. Ini jelas fitnah, saudara.

Lalu bagaimana saya bisa tahu akhlaknya dia?

Kan kita bisa tanya kepada walinya, kepada kakaknya, kepada adiknya, kepada teman akrabnya, bagaimana akhlak si wanita tersebut, bisa kita tanya kepada orang-orang dekatnya. Tentu ini adalah perkara-perkara yang harus diperhatikan bagi mereka yang mau ta’aruf dengan seorang akhwat. Jangan sampai memudah-mudahkan. Jangan sampai di sini bermain syahwat kita. Semua kita harus sesuai dengan syariat, bukan sesuai dengan syahwat dan keinginan.

Nah, dari itulah wahai para jomblo, selamat mencari pasangan Anda. Jangan lama-lama ngejomblo ya, ngejomblo itu kurang bagus. Kata Umar bin Khattab, “Orang yang menunda-nunda nikah itu tidak lepas dari dua; apakah dia orang impoten (nggak punya nafsu) atau dia orang fasik. Nah, Anda yang mana dari dua ini?

Maka, wahai para jomblo, sadarilah bahwa menikah itu adalah menyempurnakan setengah agama Anda kata Rasulullah. Itu kebaikan buat kita


TIPS KETIKA SAKIT







TIPS KETIKA SAKIT

الحمد لله، والصلاه والسلام على رسول الله نبينا محمد واله وصحبه ومن والاه، أشهد أنَ لا إله إِلاَ الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله، أما بعد

Jikakita sakit, kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berobat. Kata Rasulullah:

تَدَاوَوْا يَا عِبَادَ اللَّهِ

“Berobatlah wahai hamba Allah” (HR. Tirmidzi)

Namun ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam masalah yang berhubungan dengan berobat. Apa itu?

1. DIANJURKAN

Berobat adalah perkara yang dianjurkan oleh syariat dan tidak meniadakan sama sekali perintah untuk sabar dengan ketentuan Allah dan ridha dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang menganjurkan kita untuk berobat adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَدَاوَوْا يَا عِبَادَ اللَّهِ

“Hendaklah kalian berobat wahai hamba Allah” (HR. Tirmidzi)

Maka tentu yang Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam anjurkan kepada umatnya itu adalah berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang kita diperintahkan untuk sabar menghadapi ketentuan Allah. Tapi bukan berarti sabar itu diam. Sabar hendaknya disertai dengan adanya usaha.

Ketika kita sakit, kita diperintahkan untuk berusaha mencari kesembuhan dengan cara kita berobat. Sama halnya ketika kita lapar. Lapar adalah takdir, tapi apakah berarti kita sabar saja terus lapar? Tidak! Kita berusaha untuk mencari makan. Nah, berobat merupakan perkara yang dianjurkan oleh syariat.

Lalu mana yang lebih utama antara berobat atau tidak berobat?

Jawab: Yang lebih sesuai dengan sunnah adalah berobat. Walaupun memang para ulama mengatakan apabila ia tidak berobat dan ia lebih memilih sabar, silakan saja. Tapi yang sesuai dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah berobat. Ini adalah perkara pertama yang harus diperhatikan.

2. BEROBAT ADALAH WASILAH

Ketika kita berobat, niat kita adalah sebagai mencari usaha kesembuhan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadikan berobat itu sebagai wasilah. Jangan jadikan berobat itu sebagai tujuan.

Maksudnya kita wajib meyakini bahwa yang memberikan kesembuhan hanya Allah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berusaha mencari kesembuhan tersebut. Yaitu dengan cara berobat. Adapun kalau kita jadikan berobat sebagai tujuan, terkadang kita menganggap bahwa kesembuhan itu karena berobat.

Memang betul kesembuhan itu diantara sebabnya adalah berobat. Tapi yang paling utama harus kita yakini bahwa kesembuhan itu semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ﴿٨٠﴾

dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 80)

3. BERSANDAR KEPADA ALLAH

Perkara yang ke-3 yang harus kita yakini bahwa ketika kita berobat hati kita tetap bersandar kepada Allah. Jangan sampai hati kita bersandarnya kepada dokter, jangan sampai hati kita bersandarnya kepada obat. Karena sudah kita sebutkan tadi bahwa yang menyembuhkan adalah Allah. Adapun dokter dan obat adalah wasilah dan sebab.

Terkadang ada orang yang sudah berobat ke dokter, tapi ternyata belum Allah kasih kesembuhan. Dia sudah makan berbagai macam obat, tapi ternyata qadarullah belum diberikan kesembuhan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu saudaraku sekalian, kalau kita berobat tapi hati kita bersandar kepada dokter, maka ini bisa masuk kepada jenis kesyirikan. Kita berobat tapi hati kita bersandar kepada obat, ini juga adalah merupakan salah satu jenis kesyirikan.

4. MENJAGA UCAPAN

Jangan sampai kita mengucapkan kata-kata yang berbau syirik. Contoh ketika kita sembuh  kita berkata, “obat ini yang menyembuhkan saya/dokter yang menyembuhkan saya.” Saya katakan bahwa ini ucapan yang berbau kesyirikan. Karena yang menyembuhkan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Yang tepat) kita katakan, “Allah menyembuhkan saya melalui dokter ini/Allah menyembuhkan saya melalui obat ini.” Semua karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemberian dariNya. Nah, ini yang benar saudara-saudaraku sekalian.

Terkadang sebagian orang mengucapkan kata-kata yang sebetulnya tidak pantas untuk diucapkan. Seperti mengatakan bahwa dokter yang bisa menyembuhkan, obat bisa menyembuhkan. Kita katakan bahwa yang menyembuhkan secara hakiki hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun obat dan dokter itu adalah hanya sebatas wasilah.

5. SABAR

Jika kita sudah berobat dan kesembuhan belum pula datang, kewajiban kita adalah bersabar dan terus kita bertawakal kepada Allah dan serahkan semuanya kepada Allah. Terkadang ada orang yang sudah berobat, berobat dan berobat tapi kemudian belum diberikan kesembuhan oleh Allah. Lalu yang muncul adalah putus asa. Bahkan na’udzubillah sampai kepada derajat seseorang su’udzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini tentu berbahaya sekali akan aqidah dia.

Maka disaat kita belum diberikan oleh Allah kesembuhan, kewajiban kita sabar, kewajiban kita ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

6. BERHARAP PAHALA DAN AMPUNAN

Perkara yang terakhir adalah hendaknya kita berharap pahala di sisi Allah dan ampunan disisiNya. Karena semua penyakit yang menimpa seorang mukmin itu hakikatnya adalah menggugurkan dosa dia dan mengangkat pahala dia. MasyaAllah.. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidak ada seorang muslim yang tertimpa cobaan berupa sakit maupun selainnya, melainkan dihapuskan oleh Allah Ta’ala dosa-dosanya, seperti sebatang pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR. Muslim)

Maka ketika kita sakit kita selalu berharap, “mudah-mudahan Allah dengan sakit saya ini, Allah ampuni dosa-dosa saya.” Kita selalu ingat akan dosa-dosa kita. Kita berharap, “mudah-mudahan dengan sakit ini Allah angkat derajat saya. Sehingga saat itu kita bisa lebih kuat kesabaran kita dan lebih ridha dengan ketentuan yang Allah berikan kepada kita.”

Dan jangan lupa saudaraku, kita banyak berdo’a. Berdo’a supaya disabarkan, berdo’a supaya dijadikan hati kita ridha. Makanya diantara perkara yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta kepada Allah:

وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ

“Ya Allah aku minta kepada Engkau keridhaan setelah takdir dan ketentuan yang Engkau berikan kepadaku.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Karena memang untuk ridha dengan ketentuan Allah itu butuh keimanan.

Inilah beberapa tips atau beberapa perkara yang hendaknya diperhatikan ketika kita diberikan oleh Allah sakit. Semoga ini bermanfaat buat kita semuanya